ANAK KECIL DAN SAPI BETINA

ANAK KECIL DAN SAPI BETINA

Pada massa lampau, tersebutlah seorang lelaki saleh yang memiliki anak kecil dan anak sapi. Anak sapi ini dibawanya masuk ke dalam hutan, lalu ia berdoa, Ya Allah! Saya titipkan anak sapi ini ke kepada Mu untuk putraku kelak sudah besar”.

Setelah ia meninggal dunia, anak sapi itu terus hidup sendiri di hutan, tanpa pengembala. Bahkan bila terlihat orang, ia langsung berlari.

Ketika anaknya sudah dewasa, ia membagi waktunya dalam sehari menjadi tiga, sepertiga untuk beribadah, sepertiga untuk tidur, dan sepertinganya lagi untuk diberikan kepad a ibunya.

Setiap pagi ia pergI mencari kayu untuk dijual ke pasar dan hasil penjualannya dibagi tiga, untuk sedekah , sepertiga untuk makan, dan sepertiganya diberikan kepada ibunya.

Pada suatu saat ibu berkata, “Ayahmu telah mewariskanuntukmu seekor sapi, yang dititipkan kepada Allah SWT di hutan. Pergilah kau ke sana dan berdoalah kepada Tuhannya Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as, dan Nabi Yaqub as agar sapi itu kembali padamu. Sapi itu berwarna kuning, kulitnya kekilauan bagaikan emas terutama jika terkena pancaran sinar matahari”.

Pergilah pemuda itu ke hutan. Sesampai di hutan pemuda itu melihat seekor sapi yang sedang makan rumput. Ia pun berdoa kepada Tuhannya Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as, dan Nabi Yaqub as. Lalu berkata , “Ke marilah !”. Sapi itu pun berlari mendekatinya, lalu dipegang lehernya dan dibawa pulang. Tiba-tiba sapi itu bisa bicara dan berkata padanya, “Wahai anak muda yang berbakti pada ibunya, naiklah ke punggungku untuk meringankan bebanmu”. “Ibu tidak menyuruh demikian, hanya berpesan untuk memegang lehermu” , jawab pemuda itu. “Demi Tuhannya bani Isra’ill!, seandainya a kau mengendaraiku, tentu aku tidak dapat berjalan. Wahai anak muda ! Seandainya kau perintahkan pada bukit itu untuk berpindah, niscaya bukit itu akan pindah semua karena baktimu kepada ibumu”, kata sapi itu.

Akhirnya sampailah di rumah dan sapi itu diserahkan kepada ibunya. Sang Ibu berkata, “Wahai anakku! Kau orang miskin dan berat bagimu mencari kayu di siang hari dan bangun malam. Sebaiknya sapi itu kau jual saja”. Pemuda itu bertanya,”Berapakah harganya harus ku tentukan ?”. “Tiga dinar, namun jangan ke buru di jual sebelum musyawarah denganku”, jawab sang ibu sembari menasehati.

Pada saat itu, harga sapi memang 3 dinar. Ketika sapi itu dijual ke pasar , Allah mengutus malaikat untuk meguji ketaatan pemuda itu pada ibunya. Malaikatpun menemui pemuda itu dan berkata, “Berapa kau tawarkan harga sapimu itu?”. “Saya beli 6 dinar, dengan syarat jangan memberitahu ibumu”, rayu malaikat.

“Seandainya tuan memberiku uang emas seberat sapi ini, aku tidak akan menerimanya tanpa persetujuan ibuku “, jawabnya yakin. Pemuda itupun pulang dan menyampaikan peristiwa tadi kepada ibunya. “Sekarang kau boleh menjual dengan harga 6 dinar dengan syarat meminta persetujuanku dulu”.

Sesampainya di pasar, malaikat bermaksud mengujinya kembali seraya berkata , “Sekarang saya tawarkan 12 dinar dengan syarat tak perlu memberi tahu ibumu”. Pemuda itu pun pulang dan menyampaikan kepada ibunya. Sang ibu berkata, “Orang yang datang padamu adalah malaikat yang ingin mengujimu. Bila ia datang lagi, tanyakan padanya , apakah sapi itu boleh dijual atau tidak ?”. Setelah hal itu ditanyakan kepada malaikat, maka malaikat menjawab, “Pulanglah dan katakan pada ibumu . Tangguhkan dulu sapimu ini, sebab Nabi Musa bin Imran as akan membeli sapimu ini karena terjadinya peristiwa pembunuhan di kalangan Bani Isra’ill. Bila ia datang untuk membeli sapi ini, jangan dijual kecuali seharga emas yang beratnya sama dengan sapimu ini”.

Maka sapi itu pun ditangguhkan dulu sehingga terjadilah perintah Allah kepada Bani Isra’ill untuk menyembelih seekor sapi betina (Al Baqarah) . Ketika mereka mencari sapi yang memenuhi syarat, tidak ditemukan kecuali sapi itu. Maka mereka itupun terpaksa membelinya dengan emas seberat sapi itu dengan uang dinar. Demikianlah karunia Allah SWT karena ketaatan dan baktinya pemuda itu kepada ibunya.

Dikutip dari “Mabrur Sebelum Haji” Shaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: